Bab III
Tokoh Dan Tipe
“Membangun tokoh” ConstantinStanislavski
Tokoh Dan Tipe
“Membangun tokoh” ConstantinStanislavski
Disini saya ingin sedikit menjelaskan “Tokoh dan Tipe” :
Tokoh “karakter secara khusus/spesifik”
Tipe “ciri-ciri secara umum”
Tokoh “karakter secara khusus/spesifik”
Tipe “ciri-ciri secara umum”
Ketika saya membaca bab ke3 dari buku
membangun tokoh saya menjadi paham dengan arti
topeng-topeng yang ada pada diri aktor.
Pada awal
bab ini, setelah pesta topeng beberapa hari lalu pak Tortsov memulai kelas dan
berkata pada sonya :
“Ada aktor-aktor, khususnya aktor perempuan, yang tidak merasa perlu melakukan karakterisasi atau menjelmakan diri menjadi tokoh berwatak lain, karena semua peran mereka sesuaikan dengan daya tarik pribadi mereka. Mereka membangun sukses mereka berdasarkan daya tarik pribadi semata. Tanpa itu, mereka sama tak berdayanya dengan Samson yang dipangkas rambutnya.
”Ada perbedaan sangat besar atara mencari dan memilih emosi-emosi di dalam diri yang berkaitan dengan suatu peran dan mengubah peran agar sesuai dengan sumber yang sudah ’siap pakai’ di dalam diri seseorang.
“Ada aktor-aktor, khususnya aktor perempuan, yang tidak merasa perlu melakukan karakterisasi atau menjelmakan diri menjadi tokoh berwatak lain, karena semua peran mereka sesuaikan dengan daya tarik pribadi mereka. Mereka membangun sukses mereka berdasarkan daya tarik pribadi semata. Tanpa itu, mereka sama tak berdayanya dengan Samson yang dipangkas rambutnya.
”Ada perbedaan sangat besar atara mencari dan memilih emosi-emosi di dalam diri yang berkaitan dengan suatu peran dan mengubah peran agar sesuai dengan sumber yang sudah ’siap pakai’ di dalam diri seseorang.
Dalam penjelasan di atas ada beberapa tipe Aktor palsu :
1. Aktor pamer/narsis/eksbesionisme :
Aktor yang mencintai dirinya sendiri dari pada peran, seperti halnya mereka sangat khawatir karna ketidak hadiran kepribadian asli mereka, mereka malah menonjol-nonjolkan ketampanan, kecantikan mereka, seperti yang dilakukan sonya ujar pak Tortsov. Ada pula banyak aktor yang meyakini dan mengandalkan sepenuhnya pesona mereka. Mereka mempertunjukannya di depan penonton mereka. Ambil Dasha dan Nicholas sebagai contoh. Mereka pikir, daya tarik mereka terletak pada kedalaman perasaan mereka memaikan peran masing-masing dengan dasar itu sambil membesar-besarkan dan membumbuinya dengan beberapa ciri sifat asli mereka yang terkuat.
Aktor yang mencintai dirinya sendiri dari pada peran, seperti halnya mereka sangat khawatir karna ketidak hadiran kepribadian asli mereka, mereka malah menonjol-nonjolkan ketampanan, kecantikan mereka, seperti yang dilakukan sonya ujar pak Tortsov. Ada pula banyak aktor yang meyakini dan mengandalkan sepenuhnya pesona mereka. Mereka mempertunjukannya di depan penonton mereka. Ambil Dasha dan Nicholas sebagai contoh. Mereka pikir, daya tarik mereka terletak pada kedalaman perasaan mereka memaikan peran masing-masing dengan dasar itu sambil membesar-besarkan dan membumbuinya dengan beberapa ciri sifat asli mereka yang terkuat.
2.
Aktor kodian/foto copy/daur ulang :
Aktor yang tidak pernah memainkan peran. Hanya mengemas akting-akting yang sudah ada dengan sangat apik. Mereka yang kuat pada teknik dan klise yang bukan bikinan mereka sendiri melaikan mereka ambil oper dari aktor-aktor lain di zaman dan negri lain. Karakterisasi demikian didasarkan pada ritual yang sangat konvensional. Mereka tahu bagai mana memainkan setiap peran dalam srentetan lakon dari seluruh penjuru dunia. Bagi aktor-aktor macam ini, semua peran tertuang dalam cetakan permanen yang sudah ‘diterima seperti itu’ dan tidak pernah berubah-ubah lagi. Andai tidak begitu, mana mungkin mereka bisa memainkan hampir tiga ratus enam puluh lima kali dalam pertahun, masing-masing hanya dengan satu kali latihan, seperti yang terjadi di beberapa kota.
“saya yakin bahwa mereka yang cenderung mengikuti jalur yang berbahaya ini tanpa melakukan perlawanan akan kena batunya suatu saat”.
Aktor yang tidak pernah memainkan peran. Hanya mengemas akting-akting yang sudah ada dengan sangat apik. Mereka yang kuat pada teknik dan klise yang bukan bikinan mereka sendiri melaikan mereka ambil oper dari aktor-aktor lain di zaman dan negri lain. Karakterisasi demikian didasarkan pada ritual yang sangat konvensional. Mereka tahu bagai mana memainkan setiap peran dalam srentetan lakon dari seluruh penjuru dunia. Bagi aktor-aktor macam ini, semua peran tertuang dalam cetakan permanen yang sudah ‘diterima seperti itu’ dan tidak pernah berubah-ubah lagi. Andai tidak begitu, mana mungkin mereka bisa memainkan hampir tiga ratus enam puluh lima kali dalam pertahun, masing-masing hanya dengan satu kali latihan, seperti yang terjadi di beberapa kota.
“saya yakin bahwa mereka yang cenderung mengikuti jalur yang berbahaya ini tanpa melakukan perlawanan akan kena batunya suatu saat”.
3.
Aktor epigon (pengekor)
Aktor yang mempunyai keterampilan menjelma aktor yang pernah memainkan peran terdahulu.
“Misalnya kamu, Grisha. Dengan pilihan riasan dan kostum yang hati-hati untuk prlajaran kita yang lalu, jangan kau pikir bahwa kau sudah menciptakan citraan Mephistopheles, bahwa kau sudah menjelmakan dirimu menjadi dirinya atau bahkan bersembunyi di dalam sosoknya. Tidak, itulah kesalahanmu”. Kamu tetap pemuda tampan seperti adanya dirimu. Kau hanya mengambil penampilan luar yang baru dan seperangkat gaya prilaku siap-pakai yang baru, yang kali ini tak ada dalam daftar tokoh klise zaman Ghotik atau abad pertengahan, menurut peristilahan kita.
“Dalam the taming of the shrew-karya shakespease-kami melihatmu memakai kostum dan perlengkapan yang persis sama, hanya saja waktu itu disesuaikan kebutuhan komik bukan tragik.
”Kami mengenal gaya modernmu, yang rutin dalam komedi masa kini dalam drama bersajak maupun prosa. Tapi apapun make up dan kostum, apapun ciri prilaku yang kau peragakan, kau tidak pernah lepas dari ‘Grisha’,sang aktor’ saat kau dipanggung. Segala metode yang kau gunakan justru mengembalikanmu lebih dekat pada Grisha. “Namun ini juga tidak niscaya sepenuhnya, dengan cara stereotipmu tidak mengaburkan pandanganmu, pada Grisha ‘sang aktor’ melaikan semua aktor pada zaman yang termasuk jenis ini.
Dan biarkan kami melihat diri manusiamu bukan sang aktor, karena sang aktor Grisha telah kami lihat sepanjang hidup kami disembarang pagelaran teater.
Pak tortsov berkata : “saya yakin bahwa Grisha sang manusia akan melahirkan sekian banyak tokoh peran. Tapi sang aktor Grisha tidak akan mempersembahkan apapun karena usaha dan produk “potokopi” di panggung sangat sungguh terbatas jangkauannya, miskin dan keropos sampai kedasarnya”.
Aktor yang mempunyai keterampilan menjelma aktor yang pernah memainkan peran terdahulu.
“Misalnya kamu, Grisha. Dengan pilihan riasan dan kostum yang hati-hati untuk prlajaran kita yang lalu, jangan kau pikir bahwa kau sudah menciptakan citraan Mephistopheles, bahwa kau sudah menjelmakan dirimu menjadi dirinya atau bahkan bersembunyi di dalam sosoknya. Tidak, itulah kesalahanmu”. Kamu tetap pemuda tampan seperti adanya dirimu. Kau hanya mengambil penampilan luar yang baru dan seperangkat gaya prilaku siap-pakai yang baru, yang kali ini tak ada dalam daftar tokoh klise zaman Ghotik atau abad pertengahan, menurut peristilahan kita.
“Dalam the taming of the shrew-karya shakespease-kami melihatmu memakai kostum dan perlengkapan yang persis sama, hanya saja waktu itu disesuaikan kebutuhan komik bukan tragik.
”Kami mengenal gaya modernmu, yang rutin dalam komedi masa kini dalam drama bersajak maupun prosa. Tapi apapun make up dan kostum, apapun ciri prilaku yang kau peragakan, kau tidak pernah lepas dari ‘Grisha’,sang aktor’ saat kau dipanggung. Segala metode yang kau gunakan justru mengembalikanmu lebih dekat pada Grisha. “Namun ini juga tidak niscaya sepenuhnya, dengan cara stereotipmu tidak mengaburkan pandanganmu, pada Grisha ‘sang aktor’ melaikan semua aktor pada zaman yang termasuk jenis ini.
Dan biarkan kami melihat diri manusiamu bukan sang aktor, karena sang aktor Grisha telah kami lihat sepanjang hidup kami disembarang pagelaran teater.
Pak tortsov berkata : “saya yakin bahwa Grisha sang manusia akan melahirkan sekian banyak tokoh peran. Tapi sang aktor Grisha tidak akan mempersembahkan apapun karena usaha dan produk “potokopi” di panggung sangat sungguh terbatas jangkauannya, miskin dan keropos sampai kedasarnya”.
4. Aktor ceroboh
Vanya misalnya, setelah pak Tortsov membahas Grisha ia pun membongkar permainan Vanya. “Apa yang kau sajikan kepada kami,” kata pak Tortsov, “bukanlah citra sosok melaikan kesalahpahaman. Yang kau sajikan bukanlah manusia atau monyet melaikan sapu cerobong asap. Ia tidak punya wajah, hanya ujung yang kotor untuk menyapu jelaga.
“Dan bagaimana tetang pembawaanmu, gerakmu, lakumu? Apa semuanya itu? Sejenis ayan atau apa? Apa kau harap kau harap, kau bisa bersembunyi di balik karakterisasi peran pria tua itu, tapi kau gagal. Sebaliknya, kau hanya memperlihatkan “Vanya” dengan lebih nyata dan hidup dari “Vanya” yang sebelum-belumnya, karena prilaku itu khas milikmu bukan milik si pria lanjut usia yang seharusnya kau lukiskan.
Vanya misalnya, setelah pak Tortsov membahas Grisha ia pun membongkar permainan Vanya. “Apa yang kau sajikan kepada kami,” kata pak Tortsov, “bukanlah citra sosok melaikan kesalahpahaman. Yang kau sajikan bukanlah manusia atau monyet melaikan sapu cerobong asap. Ia tidak punya wajah, hanya ujung yang kotor untuk menyapu jelaga.
“Dan bagaimana tetang pembawaanmu, gerakmu, lakumu? Apa semuanya itu? Sejenis ayan atau apa? Apa kau harap kau harap, kau bisa bersembunyi di balik karakterisasi peran pria tua itu, tapi kau gagal. Sebaliknya, kau hanya memperlihatkan “Vanya” dengan lebih nyata dan hidup dari “Vanya” yang sebelum-belumnya, karena prilaku itu khas milikmu bukan milik si pria lanjut usia yang seharusnya kau lukiskan.
Dari penjabaran diatas
kita dapat memeriksa keberadaan diri kita di tipe apa kita sesungguhnya selama
ini. Selain ada tipe-tipe palsu pak Tortsov juga memberi tahu aktor yang
seharusnya berdiri diatas panggung, adalah aktor watak (karakterisasi).
Apa yang dimaksud dengan aktor watak.
Aktor watak adalah
seorang pemeran (aktor) yang bersembunyi dibalik peran yang dimaikannya,
bukan peran yang bersembunyi di balik kepribadiannya. Ada aktor-aktor yang
tidak diberi anugrah, seperti ketampanan, kecantikan, vokal yang bagus atau hal
semacamnya. Tetapi ia terus mencari untuk menjelmakan tokoh yang ia mainkan,
meraka bersembunyi di dalam karakterisasi untuk mencapainya. Untuk mencapai ini
semua dibutuhkan teknik yang halus dan kepekaan olah seni yang tinggi, mereka
tidak memukul rata dan menundukan semua peran di bawah kriteria mereka. Seperti
proses kreatif yang dilakukan Kotsya pada pesta topeng :
“Dari
sudut pandang penciptaan keperibadian individu ini, hanya kotsya yang berhasil.”
“yang ia suguhkan kepada kita adalah sebuah karya yang artistik dan berani, dan karena itu harus kita bicarakan secara rinci. “Saya meminta Kotsya menjelaskan secara rinci sejarah perkembangan kritikusnya. Menarik kita ketahui proses kreatif apa yang membantunya menghayati perannya.”
“yang ia suguhkan kepada kita adalah sebuah karya yang artistik dan berani, dan karena itu harus kita bicarakan secara rinci. “Saya meminta Kotsya menjelaskan secara rinci sejarah perkembangan kritikusnya. Menarik kita ketahui proses kreatif apa yang membantunya menghayati perannya.”
Aku melakukan apa yang diminta oleh pak Tortsov. Langkah demi langkah,
kuiingat semua apa yang kutulis di buku harianku tetang pematangan lelaki
berjas panjang lusuh itu di dalam diriku. Pertama-tama saya percaya secara
penuh dan sungguh-sungguh bahwa yang sedang saya lakukan dan rasakan itu nyata;
kemudian saya muncul rasa percaya dan keyakinan bahwa citra yang sudah saya
ciptakan itu tepat, dan bahwa semua tindakan bukan kepura-puraan. Ini bukan
kepercayaan seorang aktor yang tersedot dalam dirinya sendiri; ini kepercyaan
yang berbeda bahwa diri saya jujur dan tulus. Saya didalam diri si pria tua itu
saya bertidak sejauh yang saya suka. Dan kalu dengan bapak pun saya berani
bertatap muka seperti itu, tentunya saya tidak mereasa sungkan sama sekali
memperlakukan penonton di seberabg lampu-lampu kaki dengan cara yang sama.
“Tapi apa yang kaurasakan ketika berhadapan dengan lubang hitam lengkungan prosenium itu?” tanya seorang siswa. Aku bahkan tidak memperhatikannya. Aku begitu terkuasai oleh sesuatu yang jauh lebih menarik, yang menyerap diriku saat itu. Itulah sebabnya pak Tortsov secara ringkas menyimpulkan, “Kotsya benar-benar hidup dalam sosok kritikusnya yang buruk perangainya. jadi, seperti yang kalia lihat, kita bisa menggunakan emosi kita sendiri, sensasi dan naluri-naluri kita sendiri, bahkan ketika kita sedang menghadapi tokoh watak yang berbeda dengan pribadi asli kita; perasaan-perasaan Kotsya selama memaikan perannya adalah perasaan-perasaan dia sendiri.
“Tapi apa yang kaurasakan ketika berhadapan dengan lubang hitam lengkungan prosenium itu?” tanya seorang siswa. Aku bahkan tidak memperhatikannya. Aku begitu terkuasai oleh sesuatu yang jauh lebih menarik, yang menyerap diriku saat itu. Itulah sebabnya pak Tortsov secara ringkas menyimpulkan, “Kotsya benar-benar hidup dalam sosok kritikusnya yang buruk perangainya. jadi, seperti yang kalia lihat, kita bisa menggunakan emosi kita sendiri, sensasi dan naluri-naluri kita sendiri, bahkan ketika kita sedang menghadapi tokoh watak yang berbeda dengan pribadi asli kita; perasaan-perasaan Kotsya selama memaikan perannya adalah perasaan-perasaan dia sendiri.
Pak Tortsov menantang kotsya untuk melakukan, emosi-emosi
semacam itu tanpa rias ataupun kostum. Karna pak Totsov ingin melihat emosi
semacam itu tanpa bersembunyi di balik rekaan.
Lagi
pula saya sudah sering memaikan peran itu tanpa rias. Tetapi saya malu untuk
melakukan apa yang ada pada diri saya.
Dengan, demikian, suatu perwatakan atau penokohan, karakterisasi, adalah topeng menyembunyikan diri aktor. Di balik lindungan topeng itu aktor dapat menelanjangi jiwanya hingga bagian yang paling intim. Inilah ciri khas yang penting dari penokohan dan karaterisasi.
Dengan, demikian, suatu perwatakan atau penokohan, karakterisasi, adalah topeng menyembunyikan diri aktor. Di balik lindungan topeng itu aktor dapat menelanjangi jiwanya hingga bagian yang paling intim. Inilah ciri khas yang penting dari penokohan dan karaterisasi.
Agung
Cesmong 22/09/14
