Kumpulan
puisi
Bagus
giat haryoko
2012-2014
Laut
lepas
Malam
adalah burung-burung kesepian
Dan
pagi kehilangan jalan
Dingin
dalam diriku
Lautan
lepas dalam hatimu
Aku
tak bisa meredekan hujan
Dan
pelangi telah memilikimu
Tetapi
apa yang akan sampai pada hatiku
Waktu
termangu
Langit
sendiri
April
2012
Di
ujung waktu
Di
ujung waktu
Pada
sisa rokok mu
Bayangan
wanita itu
Halaman
buku telah penuh
Dan
secangkir kopi tak tersentuh
Mungkin
kau masih ingin mengucapkan kenangan
Cahaya
matahari, telah menyentuh wajahmu
Tetapi
waktu hanya larut untuk kesekian kali
April
2012
Tetangku
Wajahmu
ibu
Pada
potret riang
Dalam
bingkai
Dinding
kamar
Manakah
yang sama dengan wajahmu
Wanita
berkerudung merah
Atau
jingga
Menghitung
daun
Dengan
jari-jari kelabu
Seorang
meminta patung kayuku, ibu
Maka
hari bahagiaku adalah angan seorang wanita
Tentang
seorang pria berbaju hitam
Menunggu
langit senja
Di
bawah pohon akasia
Suara
siapa yang terdengar
Saat
subuh sebentuk khayalan
Dan
pagi meninggi
Hanya
ibu yang mengerti
Ditanganku
Ia
melukiskan langit senja
Mei
2012
Solilokui
Kata
seperti angin
Lumpur
sebentuk khayalan pagi
Kegembiraan
tak dapat
Dilihat
dengan sendiri
Mei
2012
Mengaca
pada rembulan
Wajahmu
seperti kilau lautan
Berdekapan
tak terbaca
Seperti
laut lepas
Bulan
berlayar
Kata-kata
bercerai
Gelombang
pada karang
Sepi
mengusai buih-buih
Rembulan
hilang tepi
Juli 2012
Juli 2012
Penantian
Kau
tak lagi ada
Sayap-sayap
hitam awan
Menjelma
badai
Laut
membangakai
Di
landai pantai
Cahaya
menetas
Pada
ambang fajar
Juli
2012
Hrapan
Dibaris
pepohonan
Sebentuk
mimpi tak terjaga
Karena
sudut malam tak ada
Menjelma
labirin hitam
Mencekam
batu angan
Terkapar
serupa bangakai
Juli
2012
Kata
Kata
yang tersembunyi
Seperti
luka baru
Perih
dipelapar mata
Mengungkap
tanya
Selalu
terlihat denyarnya, debarnya
Gambar
berwarna darah
Pada
ingatan mengelabu
Juli
2012
Tak
pasti
Siapa
yang mendengar hujan pagi ini
Mengusik
banyak tanda dan tanya
Pada
pintu kematian
Tanpa
kata
Seperti
arus dalam laut
Mendengar
gelombang pada karang
Seperti
buih mengantar tanya
Tersimpan
dipasir garam
Juli
2012
Seketsa malam kota
Awan hitam menutup kota
Bias cahaya memantulkan
Bentuk jalan pada khayal
Seorang pelacur dan suara lagu
Mengalun dari pintu bar
Mentautkan diri dipinggir trotoar
Hingga malam susut
Sebatang rokok ia nyalakan
Bagi dingin atau angin
Seperti lelakinya yang lama pergi
Juli 2012
Terlepas
Engkau seperti sajak
Lepas makna dari kata
Seperti jejari angin
Menyentuh reranting
Daun gugur menjadi asing
Hilang pada arus ditubuh
Sungai yang juga mengalir dinadiku
Begitu sunyi serupa ilusi
Yang lama kunanti denyarnya
Digigir pagi
Sekawanan burung
Mungkin juga mendung
Mendayung bersama layung
Juli 2012
Bertanya
Tak
ada kata dalam setiap balutan hujan
Selain
lokan lokan kepedihan
Memiuhkan
hasrat yang tak runut dalam kabut cemas
Menjadikannya
senandung yang belum lengkap
Mengapa
tak kau gulati kenangan kita
Mengapa
kau hanya mengubur kenangan yang indah
Aku
pun tak sempat lagi memberi tanda
Pada
setiap pristiwa yang melintas ditengah,
Kegembiraan
kita
Banyak
ikhwal perasaan yang belum lengkap
Dari
semua kenangan yang telah kau kuburkan
Dan
tak ada kata dalam balutan hujan
Yang
memiuhkan hasrat kenangan
januari
2013
Membalas
Dulu
suaramu selalu menyulap
Malam
begitu nyaman untuk dilewati
Angin
membawa hujan untuk membalut kata yang terpenggal;
Tetapi
kenangan itu telah cukup untuk bekal berlabuh
Malam
datang membawa badai
Suaramu
melekat tentram pada hati
Masih
ada ketegaran kasih sukmamu
Kasih
berjanjilah dengan hati pupus ini
Seperti
layaknya para pecinta
Agar
aku dapat membalas kasihmu
Dengan
cinta yang telah lengkap
Sebelum
fajar menjemput
Januari
2013
Kenangan
lalu sebuah kapal
Di
kapal itu
Pernah
kita mengenang sesuatu
Mengungkap
peristiwa yang tertelan waktu
Tetapi
kau dan aku tak pernah mampu
Mencerna
kenangan lalu
Menganjal
ingatan klabu
Ah,,,
laut begitu tenang
Malam
tenang
Tanpa
penerangan
Angin
datang begitu nyaman
Pada
cinta yang tenang
Kenangan-kenangan
itu melayang
Menjadi
angan
Menggelepar
dan tak lagi membangkai
Tubuh
bergeming, menjadi bangkai kenangan
Tetapi
di kapal itu
Telah
ada kehidupan
Yang
tak sempat ku bisikan
Februari
2013
nyayian sajak
Aku tak mengerti
Jejak itu
Bercerita apa pada malam
Sebaris sajak jatuh
segumpal kata dalam bayang
Jejak itu
Bercerita apa pada malam
Sebaris sajak jatuh
segumpal kata dalam bayang
Pohon pohon yang berbaris
Seperti selarik mimpi
“Kau seperti nyanyian tanpa telinga yang mendengarkan”
Seperti selarik mimpi
“Kau seperti nyanyian tanpa telinga yang mendengarkan”
Bau dingin
Mengantar sebuah kata
Pada sebait puisi
Yang melantun perlahan
Mengantar sebuah kata
Pada sebait puisi
Yang melantun perlahan
Lambar mei 2012-2013
Bertanya
kata dalam hujan
ingatan kepedihan
Memiuhkan hasrat
Menjadi senandung yang belum lengkap
ingatan kepedihan
Memiuhkan hasrat
Menjadi senandung yang belum lengkap
Mengapa tak kau gulati kenangan kita
Kau hanya mengubur kenangan yang indah
dan menjadi lokan – lokan tak bermakna
Kau hanya mengubur kenangan yang indah
dan menjadi lokan – lokan tak bermakna
Tak sempat lagi memberi tanda
Pada peristiwa melintas dalam kegembiraan kita
Pada peristiwa melintas dalam kegembiraan kita
Banyak ikhwal perasaan belum lengkap
Dari semua kenangan yang kau kuburkan
“dan tak ada kata dalam balutan hujan, yang memiuhkan hasrat kenangan”
Dari semua kenangan yang kau kuburkan
“dan tak ada kata dalam balutan hujan, yang memiuhkan hasrat kenangan”
Lambar januari 2013
Melalui
Dalam kamar ini
Tak kucium lagi wangi tubuhmu
Bayangmu terlihat pada dinding kamar
Tak kucium lagi wangi tubuhmu
Bayangmu terlihat pada dinding kamar
Tak lagi ada potret-potret wajahmu
Menghiasi ruang ini
Hanya selembar tissue milikmu tertinggal pada meja kusam
Menghiasi ruang ini
Hanya selembar tissue milikmu tertinggal pada meja kusam
“tetapi adakah wajahku dalam
kenangan mu?”
Menemani malam
Mengurai rindu
Menjadikannya bangkai kenangan
Dalam ruang tak bermakna
Mengurai rindu
Menjadikannya bangkai kenangan
Dalam ruang tak bermakna
Lampung
januari 2013
Melebur
-kepada veni yulia-
Daun-daun gugur menjelma kenangan
Angin menepuk punggungmu, dan lenyap dalam labirin hitam
Dan berkata pada jejak malam
Angin menepuk punggungmu, dan lenyap dalam labirin hitam
Dan berkata pada jejak malam
Ada banyak kata meliuk ditubuhmu
Saat kesedihan tenggelam dalam rentak hujan
Melebur pada hasrat
Saat kesedihan tenggelam dalam rentak hujan
Melebur pada hasrat
Dan air mata menjelma ribuan kata
Lampung agustus 2013
mencari
Mungkin sajak
segenggam ingatan
Kepak sayap burung
Tak kunjung
Pada ilusi
segenggam ingatan
Kepak sayap burung
Tak kunjung
Pada ilusi
Serbuk kapas tertiup angin
Dengan perihnya tak mengerti
Dalam dirinya tersimpan percakapan rahasia
Dengan perihnya tak mengerti
Dalam dirinya tersimpan percakapan rahasia
Adakah yang benar-benar pasti Di balik mata
lepas
Saat kau telah tak mengerti
Sajak tak menemukanmu
sendiri
Saat kau telah tak mengerti
Sajak tak menemukanmu
sendiri
Lampung
oktober 2012
hasrat
Suara malam menggelepar
Lampu jalan terkapar
Lampu jalan terkapar
Pada tiang rambu jalan
Seorang wanita sedang bersandar
Seorang wanita sedang bersandar
Menyalakan rokok
Untuk anyir dan sunyi
Pekat dilubuk hati
Untuk anyir dan sunyi
Pekat dilubuk hati
Kota menjadi peri
Bermain dalam mimpi
Sebotol wiskhy
Dipenuhi rasa dengki
Bermain dalam mimpi
Sebotol wiskhy
Dipenuhi rasa dengki
Lampung
September 2013
Terlepas
Engkau seperti sajak
Lepas makna dari kata
Seperti jejari angin
Menyentuh reranting
Daun gugur menjadi asing
Lepas makna dari kata
Seperti jejari angin
Menyentuh reranting
Daun gugur menjadi asing
Hilang pada arus ditubuh
Sungai yang juga mengalir dinadiku
Begitu sunyi serupa ilusi
Yang lama kunanti denyarnya
Digigir pagi
Sungai yang juga mengalir dinadiku
Begitu sunyi serupa ilusi
Yang lama kunanti denyarnya
Digigir pagi
Sekawanan burung
Mungkin juga mendung
Mendayung bersama layung
Mungkin juga mendung
Mendayung bersama layung
Lampung februari
2012
Seketsa malam kota
Awan hitam menutup kota
Bias cahaya, memantulkan
Bentuk jalan pada khayal
Bias cahaya, memantulkan
Bentuk jalan pada khayal
Seorang pelacur dan suara lagu
Mengalun dari pintu bar
Mentautkan diri dipinggir trotoar
Hingga larut malam susut
Mengalun dari pintu bar
Mentautkan diri dipinggir trotoar
Hingga larut malam susut
Sebatang rokok ia nyalakan
Bagi dingin atau angin
Seperti lelakinya yang lama pergi
Bagi dingin atau angin
Seperti lelakinya yang lama pergi
Lampung
juli 2012
Tak pasti
Siapa yang mendengar hujan pagi ini
Mengisak banyak tanda dan Tanya
Pada pintu kematian
Tanpa kata
Mengisak banyak tanda dan Tanya
Pada pintu kematian
Tanpa kata
Seperti arus dalam laut
Mendengar gelombang pada karang
Seperti buih mengantar Tanya
Tersimpan dipasir garam
Arah yang tak pasti
Mendengar gelombang pada karang
Seperti buih mengantar Tanya
Tersimpan dipasir garam
Arah yang tak pasti
Lampung
juni 2012
Tanda yang hilang
-kepada APF-
Kau menjelma
angin sore
yang meniupkan bara, dan mengantarkan iktibar
untuk terus menggemakan nada
pada nyayian cinta
yang meniupkan bara, dan mengantarkan iktibar
untuk terus menggemakan nada
pada nyayian cinta
Tak ubahnya kau
selalu kuberi tanda dalam hati untuk luka
persaan yang sulit untuk dihimpit
menjadi lokan sempit
selalu kuberi tanda dalam hati untuk luka
persaan yang sulit untuk dihimpit
menjadi lokan sempit
Inginku angankan kau
seperti larik larik sajak
tanpa mata yang melihat
tetapi kau selimuti itu dengan rasa ragu
seperti larik larik sajak
tanpa mata yang melihat
tetapi kau selimuti itu dengan rasa ragu
Mengapa tak sempatku tandai senyum itu
seakan seperti anak panah, mampir untuk mengenal
lekuk harapan
seakan seperti anak panah, mampir untuk mengenal
lekuk harapan
Kini, dan mungkin esok
akan tulis tanda pada lebar sajak yang lain
agar dapat tertafsirka seluruh sayatan
dan segalanya akan terbentang
akan tulis tanda pada lebar sajak yang lain
agar dapat tertafsirka seluruh sayatan
dan segalanya akan terbentang
bunga bunga api telah padam
bersama lembab darah pada luka
bersama lembab darah pada luka
Tetapi memang tak ada kalimat untuk cinta
terselsaikan oleh kata kata
terselsaikan oleh kata kata
Lampung
februari 2014
Pergi
Pagi menepi
sembilu angin menyapa hati
sunyi berteman sebilah cemas
sembilu angin menyapa hati
sunyi berteman sebilah cemas
Aku meradang pada nyeri
terhunus dalam sepi
terbakar untuk api
terlunta akan abu
terhunus dalam sepi
terbakar untuk api
terlunta akan abu
Dan seakan ada sesuatu berkeling menjadi
kenangan
setelah kenanganmu hadir di pelapar mata kusam
mata yang tak pernah memandang kilau harapan
setelah kenanganmu hadir di pelapar mata kusam
mata yang tak pernah memandang kilau harapan
Kini kepergian menanti
untuk sebuah poci digigir pagi
setelah angin mengenakan ilusi
untuk sebuah poci digigir pagi
setelah angin mengenakan ilusi
harapan terlunta, tak ada juga yang menanti
tetapi seluruh kenangan membangkitkan ku
untuk tetap melintas pada lekuk harapan
pikuk kesunyian
tetapi seluruh kenangan membangkitkan ku
untuk tetap melintas pada lekuk harapan
pikuk kesunyian
Abu yang terlunta menjadi bebas
angin membawanya serta pada jiwa
angin membawanya serta pada jiwa
Ia pergi meski terlunta
mencari batas paling sepi
menyeka tepi dari batas paling sunyi
mengapa selalu kau halau semua tanda yang ada
mencari batas paling sepi
menyeka tepi dari batas paling sunyi
mengapa selalu kau halau semua tanda yang ada
Lampung
februari 2014
meluap
I
Hujan yang itu-itu saja
meleburkan kenangan
menimbulkan hasrat dalam asmara
meleburkan kenangan
menimbulkan hasrat dalam asmara
Keluarlah dari ruang kebisingan
lihatlah warna hujan disetiap garis batas
mempertemukan kerinduan
suara hujan menjelma
batas sunyi yang samar
meskipun sajak tak pernah selsai menafsirkan namamu
menyeka kau dalam metafora
lihatlah warna hujan disetiap garis batas
mempertemukan kerinduan
suara hujan menjelma
batas sunyi yang samar
meskipun sajak tak pernah selsai menafsirkan namamu
menyeka kau dalam metafora
aku menjadi rutin menyabit kepalsuanku
membenamkanku dalam seluruh kefasihanmu
mengemasku untuk memenuhi hasratmu
membenamkanku dalam seluruh kefasihanmu
mengemasku untuk memenuhi hasratmu
hasratmu seperti lubang hitam
tetapi aku ingin masuk kebatas paling akhir dirimu
dan kupasrahkan kehancuranku di luar kehendakmu
tetapi aku mengerti tak kan mampu kau menaggung seluruh kebengalanku
tetapi aku ingin masuk kebatas paling akhir dirimu
dan kupasrahkan kehancuranku di luar kehendakmu
tetapi aku mengerti tak kan mampu kau menaggung seluruh kebengalanku
saat ini Tak ada lagi geteran itu
berkecamuk dalam jantungku
akan kupertaruhkan luka
hanya sekedar untuk menemukan harapan
karna semua tanda tak lagi nyata
berkecamuk dalam jantungku
akan kupertaruhkan luka
hanya sekedar untuk menemukan harapan
karna semua tanda tak lagi nyata
Aku telah terluka oleh pedangmu
yang selalu kau sembunyikan dalam keheninganmu
menyentuhku dengan rasa takzim
yang selalu kau sembunyikan dalam keheninganmu
menyentuhku dengan rasa takzim
“kini pedangmu menjadi dingin pada
lukaku”
Memang kau selalu anggun seperti runcing
pedang
menyayat segala kerinduan
tak mampu bergetar akan pendar harapan
menyayat segala kerinduan
tak mampu bergetar akan pendar harapan
kau membuatku telanjang dan kaku
dan bermimpi sebab terlalu ragu
dan bermimpi sebab terlalu ragu
mungkin terlalu percuma segalanya kau
beri
sebab aku telah berada pada luka dan duka
kini kebengalanklu menjelama pisau
bergerak lembut, menepi pada kefasihanmu
sebab aku telah berada pada luka dan duka
kini kebengalanklu menjelama pisau
bergerak lembut, menepi pada kefasihanmu
kau telah abai dalam kefasihanmu
untuk selau
untuk selau
mendugaku
II
Kini telah ku letakan dirimu di ujung mata
pedang
mengelupas kebebasan dari kehancuranku
memukau serta menggeladangku kepermukaan paling jera
sungguh aku telah berada pada tepi paling tepi
menyayat harapan untuk kembali menemukan suatu harapan lain
mengelupas kebebasan dari kehancuranku
memukau serta menggeladangku kepermukaan paling jera
sungguh aku telah berada pada tepi paling tepi
menyayat harapan untuk kembali menemukan suatu harapan lain
Telah kusepuh kau dalam bara hati
menjadi lawan dalam pertarungan hasrat
kau telah menguliti jantungku
dengan sembilu kefasihanmu
Membobol nalarku
menjadi lawan dalam pertarungan hasrat
kau telah menguliti jantungku
dengan sembilu kefasihanmu
Membobol nalarku
Mungkin Kita terlalu pongah pada sepi
kehilangan tanda dalam puisi
kehilangan tanda dalam puisi
III
Dan kau jangan selalu mengharapkanku
karna aku bukanlah harapan
hanya sebuah keperihan untuk mampir sekedar mengenal
pada jiwa yang tak pernah tertafsirkan
hanya sebuah keperihan untuk mampir sekedar mengenal
pada jiwa yang tak pernah tertafsirkan
Kau selalu menghalau segalanya untuk
hilang dalam keraguan
tetapi aku selalu bersenandung untuk luka baru
menyeretku hinga jera menemaniku
tetapi aku selalu bersenandung untuk luka baru
menyeretku hinga jera menemaniku
Lampung januari-februari2014
samana
I
Sungai begitu teduh
membiasi bayangan lalu
membiasi bayangan lalu
Kau berjalan mengitari hutan itu
mencari atma yang bersemayam membisu
mencari atma yang bersemayam membisu
Seperti samana sepi dalam semedi
belajar melampaui batas dirinya
pada luka ia menolak hasrat
menyelami pendritaan untuk keindahan
belajar melampaui batas dirinya
pada luka ia menolak hasrat
menyelami pendritaan untuk keindahan
Telah ia benamkan keakuan pada kehampaan
tapi tak seorang samana yang mencapai nirwana
tapi tak seorang samana yang mencapai nirwana
Lampung
februari 2014
“”
Aku pun cuma batas yang terlalu sering kau lewati
tetapi tak satupun jejakmu tertinggal
hanya debu menjadi kaku
kaku dalam waktu yang termangu
tetapi tak satupun jejakmu tertinggal
hanya debu menjadi kaku
kaku dalam waktu yang termangu
Batas batas itu tak lagi kau temukan
ketika kau benamkan kerinduan
kini aku tenggelam pada lamunan
tersayat kehampaan
ketika kau benamkan kerinduan
kini aku tenggelam pada lamunan
tersayat kehampaan
Ingin ku tanggalakan seluruh rindu
terhunyung akan kenangan yang mencabik pikiranku
terhunyung akan kenangan yang mencabik pikiranku
Berjalan ke kota para pendosa
mencari debar pada tapal ingatan
mendedel jubah kepalsuan
untuk menemukan rumbai rumbai harapan
mencari debar pada tapal ingatan
mendedel jubah kepalsuan
untuk menemukan rumbai rumbai harapan
Jangan kau terka aku seperti belukar yang
liar
Pejamkan matamu
ketika sunyi telah terbaca
dan kabut akan menebal
menutup kota yang bengal
ketika sunyi telah terbaca
dan kabut akan menebal
menutup kota yang bengal
Api menghunus sepi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar