Kamis, 02 Oktober 2014

Kumpulan puisi
Bagus giat haryoko
2012-2014
Laut lepas

Malam adalah burung-burung kesepian
Dan pagi kehilangan jalan

Dingin dalam diriku
Lautan lepas dalam hatimu
Aku tak bisa meredekan hujan
Dan pelangi telah memilikimu
Tetapi apa yang akan sampai pada hatiku
Waktu termangu
Langit sendiri

April 2012
















Di ujung waktu

Di ujung waktu
Pada sisa rokok mu
Bayangan wanita itu

Halaman buku telah penuh
Dan secangkir kopi tak tersentuh
Mungkin kau masih ingin mengucapkan kenangan

Cahaya matahari, telah menyentuh wajahmu
Tetapi waktu hanya larut untuk kesekian kali

April 2012
















Tetangku

Wajahmu ibu
Pada potret riang
Dalam bingkai
Dinding kamar

Manakah yang sama dengan wajahmu
Wanita berkerudung merah
Atau jingga
Menghitung daun
Dengan jari-jari kelabu


Seorang meminta patung kayuku, ibu
Maka hari bahagiaku adalah angan seorang wanita
Tentang seorang pria berbaju hitam
Menunggu langit senja
Di bawah pohon akasia

Suara siapa yang terdengar
Saat subuh sebentuk khayalan
Dan pagi meninggi

Hanya ibu yang mengerti
Ditanganku
Ia melukiskan langit senja

Mei 2012

Solilokui

Kata seperti angin
Lumpur sebentuk khayalan pagi
Kegembiraan tak dapat
Dilihat dengan sendiri

Mei 2012























Mengaca pada rembulan

Wajahmu seperti kilau lautan
Berdekapan tak terbaca
Seperti laut lepas

Bulan berlayar
Kata-kata bercerai
Gelombang pada karang

Sepi mengusai buih-buih
Rembulan hilang tepi


Juli 2012








Penantian

Kau tak lagi ada
Sayap-sayap hitam awan
Menjelma badai

Laut membangakai
Di landai pantai
Cahaya menetas
Pada ambang fajar

Juli 2012






Hrapan

Dibaris pepohonan
Sebentuk mimpi tak terjaga
Karena sudut malam tak ada
Menjelma labirin hitam
Mencekam batu angan
Terkapar serupa bangakai

Juli 2012








Kata

Kata yang tersembunyi
Seperti luka baru
Perih dipelapar mata
Mengungkap tanya

Selalu terlihat denyarnya, debarnya
Gambar berwarna darah
Pada ingatan mengelabu

Juli 2012






Tak pasti

Siapa yang mendengar hujan pagi ini
Mengusik banyak tanda dan tanya
Pada pintu kematian
Tanpa kata


Seperti arus dalam laut
Mendengar gelombang pada karang
Seperti buih mengantar tanya
Tersimpan dipasir garam

Juli 2012







Seketsa malam kota

Awan hitam menutup kota
Bias cahaya memantulkan
Bentuk jalan pada khayal

Seorang pelacur dan suara lagu
Mengalun dari pintu bar
Mentautkan diri dipinggir trotoar
Hingga malam susut

Sebatang rokok ia nyalakan
Bagi dingin atau angin
Seperti lelakinya yang lama pergi

Juli 2012



Terlepas

Engkau seperti sajak
Lepas makna dari kata
Seperti jejari angin
Menyentuh reranting
Daun gugur menjadi asing

Hilang pada arus ditubuh
Sungai yang juga mengalir dinadiku
Begitu sunyi serupa ilusi
Yang lama kunanti denyarnya
Digigir pagi

Sekawanan burung
Mungkin juga mendung
Mendayung bersama layung

Juli 2012









Bertanya

Tak ada kata dalam setiap balutan hujan
Selain lokan lokan kepedihan
Memiuhkan hasrat yang tak runut dalam kabut cemas
Menjadikannya senandung yang belum lengkap

Mengapa tak kau gulati kenangan kita
Mengapa kau hanya mengubur kenangan yang indah
Aku pun tak sempat lagi memberi tanda
Pada setiap pristiwa yang melintas ditengah,
Kegembiraan kita

Banyak ikhwal perasaan yang belum lengkap
Dari semua kenangan yang telah kau kuburkan
Dan tak ada kata dalam balutan hujan
Yang memiuhkan hasrat kenangan

januari 2013












Membalas


Dulu suaramu selalu menyulap
Malam begitu nyaman untuk dilewati
Angin membawa hujan untuk membalut kata yang terpenggal;
Tetapi kenangan itu telah cukup untuk bekal berlabuh

Malam datang membawa badai
Suaramu melekat tentram pada hati
Masih ada ketegaran kasih sukmamu

Kasih berjanjilah dengan hati pupus ini
Seperti layaknya para pecinta
Agar aku dapat membalas kasihmu
Dengan cinta yang telah lengkap
Sebelum fajar menjemput

Januari 2013









Kenangan lalu sebuah kapal

Di kapal itu
Pernah kita mengenang sesuatu
Mengungkap peristiwa yang tertelan waktu
Tetapi kau dan aku tak pernah mampu
Mencerna kenangan lalu
Menganjal ingatan klabu

Ah,,, laut begitu tenang
Malam tenang
Tanpa penerangan
Angin datang begitu nyaman
Pada cinta yang tenang

Kenangan-kenangan itu melayang
Menjadi angan
Menggelepar dan tak lagi membangkai
Tubuh bergeming, menjadi bangkai kenangan

Tetapi di kapal itu
Telah ada kehidupan
Yang tak sempat ku bisikan

Februari 2013





nyayian sajak
Aku tak mengerti
Jejak itu
Bercerita apa pada malam
Sebaris sajak jatuh
segumpal kata dalam bayang

Pohon pohon yang berbaris
Seperti selarik mimpi

“Kau seperti nyanyian tanpa telinga yang mendengarkan”
Bau dingin
Mengantar sebuah kata
Pada sebait puisi
Yang melantun perlahan

                                                                                        Lambar mei 2012-2013










Bertanya

kata dalam hujan
ingatan kepedihan
Memiuhkan hasrat
Menjadi senandung yang belum lengkap
Mengapa tak kau gulati kenangan kita
Kau hanya mengubur kenangan yang indah
dan menjadi lokan – lokan tak bermakna
Tak sempat lagi memberi tanda
Pada peristiwa melintas dalam kegembiraan kita
Banyak ikhwal perasaan belum lengkap
Dari semua kenangan yang kau kuburkan
dan tak ada kata dalam balutan hujan, yang memiuhkan hasrat kenangan”

                                                                                           Lambar januari 2013










Melalui

Dalam kamar ini
Tak kucium lagi wangi tubuhmu
Bayangmu terlihat pada dinding kamar
Tak lagi ada potret-potret wajahmu
Menghiasi ruang ini
Hanya selembar tissue milikmu tertinggal pada meja kusam
“tetapi adakah wajahku dalam kenangan mu?”
Menemani malam
Mengurai rindu
Menjadikannya bangkai kenangan
Dalam ruang tak bermakna


                                                                                                Lampung januari 2013









Melebur
­-kepada veni yulia-
Daun-daun gugur menjelma kenangan
Angin menepuk punggungmu, dan lenyap dalam labirin hitam
Dan berkata pada jejak malam
Ada banyak kata meliuk ditubuhmu
Saat kesedihan tenggelam dalam rentak hujan
Melebur pada hasrat
Dan air mata menjelma ribuan kata

                                                                                       Lampung agustus 2013













mencari

Mungkin sajak
segenggam ingatan
Kepak sayap burung
Tak kunjung
Pada ilusi

Serbuk kapas tertiup angin
Dengan perihnya tak mengerti
Dalam dirinya tersimpan percakapan rahasia
Adakah yang benar-benar pasti Di balik mata lepas
Saat kau telah tak mengerti
Sajak tak menemukanmu
sendiri

                                                                                      Lampung oktober 2012









hasrat

Suara malam menggelepar
Lampu jalan terkapar
Pada tiang rambu jalan
Seorang wanita sedang bersandar
Menyalakan rokok
Untuk anyir dan sunyi
Pekat dilubuk hati
Kota menjadi peri
Bermain dalam mimpi
Sebotol wiskhy
Dipenuhi rasa dengki



                                                                             Lampung September 2013








Terlepas
Engkau seperti sajak
Lepas makna dari kata
Seperti jejari angin
Menyentuh reranting
Daun gugur menjadi asing
Hilang pada arus ditubuh
Sungai yang juga mengalir dinadiku
Begitu sunyi serupa ilusi
Yang lama kunanti denyarnya
Digigir pagi
Sekawanan burung
Mungkin juga mendung
Mendayung bersama layung

                                                                                                                  

                                                                                       Lampung februari 2012








Seketsa malam kota

Awan hitam menutup kota
Bias cahaya, memantulkan
Bentuk jalan pada khayal
Seorang pelacur dan suara lagu
Mengalun dari pintu bar
Mentautkan diri dipinggir trotoar
Hingga larut malam susut
Sebatang rokok ia nyalakan
Bagi dingin atau angin
Seperti lelakinya yang lama pergi



                                                                                      Lampung juli 2012









Tak pasti

Siapa yang mendengar hujan pagi ini
Mengisak banyak tanda dan Tanya
Pada pintu kematian
Tanpa kata
Seperti arus dalam laut
Mendengar gelombang pada karang
Seperti buih mengantar Tanya
Tersimpan dipasir garam
Arah yang tak pasti   



                                                                                      Lampung juni 2012










Tanda yang hilang
-kepada APF-

Kau menjelma angin sore
yang meniupkan bara, dan mengantarkan iktibar
untuk terus menggemakan nada
pada nyayian cinta
Tak ubahnya kau
selalu kuberi tanda dalam hati untuk luka
persaan yang sulit untuk dihimpit
menjadi lokan sempit
Inginku angankan kau
seperti larik larik sajak
tanpa mata yang melihat
tetapi kau selimuti itu dengan rasa ragu
Mengapa tak sempatku tandai senyum itu
seakan seperti anak panah, mampir untuk mengenal
lekuk harapan
Kini, dan mungkin esok
akan tulis tanda pada lebar sajak yang lain
agar dapat tertafsirka seluruh sayatan
dan segalanya akan terbentang
bunga bunga api telah padam
bersama lembab darah pada luka
Tetapi memang tak ada kalimat untuk cinta
terselsaikan oleh kata kata

Lampung februari 2014
Pergi
Pagi menepi
sembilu angin menyapa hati
sunyi berteman sebilah cemas
Aku meradang pada nyeri
terhunus dalam sepi
terbakar untuk api
terlunta akan abu
Dan seakan ada sesuatu berkeling menjadi kenangan
setelah kenanganmu hadir di pelapar mata kusam
mata yang tak pernah memandang kilau harapan
Kini kepergian menanti
untuk sebuah poci digigir pagi
setelah angin mengenakan ilusi
harapan terlunta, tak ada juga yang menanti
tetapi seluruh kenangan membangkitkan ku
untuk tetap melintas pada lekuk harapan
pikuk kesunyian
Abu yang terlunta menjadi bebas
angin membawanya serta pada jiwa
Ia pergi meski terlunta
mencari batas paling sepi
menyeka tepi dari batas paling sunyi
mengapa selalu kau halau semua tanda yang ada


                                                                             Lampung februari 2014

meluap
I
Hujan yang itu-itu saja
meleburkan kenangan
menimbulkan hasrat dalam asmara
Keluarlah dari ruang kebisingan
lihatlah warna hujan disetiap garis batas
mempertemukan kerinduan

suara hujan menjelma
batas sunyi yang samar
meskipun sajak tak pernah selsai menafsirkan namamu
menyeka kau dalam metafora
aku menjadi rutin menyabit kepalsuanku
membenamkanku dalam seluruh kefasihanmu
mengemasku untuk memenuhi hasratmu
hasratmu seperti lubang hitam
tetapi aku ingin masuk kebatas paling akhir dirimu
dan kupasrahkan kehancuranku di luar kehendakmu
tetapi aku mengerti tak kan mampu kau menaggung seluruh kebengalanku
saat ini Tak ada lagi geteran itu
berkecamuk dalam jantungku
akan kupertaruhkan luka
hanya sekedar untuk menemukan harapan
karna semua tanda tak lagi nyata
Aku telah terluka oleh pedangmu
yang selalu kau sembunyikan dalam keheninganmu
menyentuhku dengan rasa takzim
“kini pedangmu menjadi dingin pada lukaku”
Memang kau selalu anggun seperti runcing pedang
menyayat segala kerinduan
tak mampu bergetar akan pendar harapan
kau membuatku telanjang dan kaku
dan bermimpi sebab terlalu ragu
mungkin terlalu percuma segalanya kau beri
sebab aku telah berada pada luka dan duka
kini kebengalanklu menjelama pisau
bergerak lembut, menepi pada kefasihanmu
kau telah abai dalam kefasihanmu
untuk selau
mendugaku

II
Kini telah ku letakan dirimu di ujung mata pedang
mengelupas kebebasan dari kehancuranku
memukau serta menggeladangku kepermukaan paling jera
sungguh aku telah berada pada tepi paling tepi
menyayat harapan untuk kembali menemukan suatu harapan lain
Telah kusepuh kau dalam bara hati
menjadi lawan dalam pertarungan hasrat
kau telah menguliti jantungku
dengan sembilu kefasihanmu
Membobol nalarku
Mungkin Kita terlalu pongah pada sepi
kehilangan tanda dalam puisi

III
Dan kau jangan selalu mengharapkanku karna aku bukanlah harapan
hanya sebuah keperihan untuk mampir sekedar mengenal
pada jiwa yang tak pernah tertafsirkan
Kau selalu menghalau segalanya untuk hilang dalam keraguan
tetapi aku selalu bersenandung untuk luka baru
menyeretku hinga jera menemaniku



                                                                              Lampung januari-februari2014














samana

I
Sungai begitu teduh
membiasi bayangan lalu
Kau berjalan mengitari hutan itu
mencari atma yang bersemayam membisu
Seperti samana sepi dalam semedi
belajar melampaui batas dirinya
pada luka ia menolak hasrat
menyelami pendritaan untuk keindahan
Telah ia benamkan keakuan pada kehampaan
tapi tak seorang samana yang mencapai nirwana

                                                                                      Lampung februari 2014








“”
Aku pun cuma batas yang terlalu sering kau lewati
tetapi tak satupun jejakmu tertinggal
hanya debu menjadi kaku
kaku dalam waktu yang termangu
Batas batas itu tak lagi kau temukan
ketika kau benamkan kerinduan
kini aku tenggelam pada lamunan
tersayat kehampaan
Ingin ku tanggalakan seluruh rindu
terhunyung akan kenangan yang mencabik pikiranku

Berjalan ke kota para pendosa
mencari debar pada tapal ingatan
mendedel jubah kepalsuan
untuk menemukan rumbai rumbai harapan
Jangan kau terka aku seperti belukar yang liar



Pejamkan matamu
ketika sunyi telah terbaca
dan kabut akan menebal
menutup kota yang bengal

Api menghunus sepi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar