Kamis, 23 Oktober 2014

persentasi buku Constantin Stanislavski



Bab III
Tokoh Dan Tipe

“Membangun tokoh” ConstantinStanislavski
Disini saya ingin sedikit menjelaskan “Tokoh dan Tipe” :
Tokoh “karakter secara khusus/spesifik”
Tipe “ciri-ciri secara umum”
Ketika saya membaca bab ke3 dari buku membangun tokoh saya menjadi paham dengan arti topeng-topeng yang ada pada diri aktor.
            Pada awal bab ini, setelah pesta topeng beberapa hari lalu pak Tortsov memulai kelas dan berkata pada sonya :
            “Ada aktor-aktor, khususnya aktor perempuan, yang tidak merasa perlu melakukan karakterisasi atau menjelmakan diri menjadi tokoh berwatak lain, karena semua peran mereka sesuaikan dengan daya tarik pribadi mereka. Mereka membangun sukses mereka berdasarkan daya tarik pribadi semata. Tanpa itu, mereka sama tak berdayanya dengan Samson yang dipangkas rambutnya.
            ”Ada perbedaan sangat besar atara mencari dan memilih emosi-emosi di dalam diri yang berkaitan dengan suatu peran dan mengubah peran agar sesuai dengan sumber yang sudah ’siap pakai’ di dalam diri seseorang.
Dalam penjelasan di atas ada beberapa tipe Aktor palsu :
1.      Aktor pamer/narsis/eksbesionisme :
Aktor yang mencintai dirinya sendiri dari pada peran, seperti halnya mereka sangat khawatir karna ketidak hadiran kepribadian asli mereka, mereka malah menonjol-nonjolkan ketampanan, kecantikan mereka, seperti yang dilakukan sonya ujar pak Tortsov. Ada pula banyak aktor yang meyakini dan mengandalkan sepenuhnya pesona mereka. Mereka mempertunjukannya di depan penonton mereka. Ambil Dasha dan Nicholas sebagai contoh. Mereka pikir, daya tarik mereka terletak pada kedalaman perasaan mereka memaikan peran masing-masing dengan dasar itu sambil membesar-besarkan dan membumbuinya dengan beberapa ciri sifat asli mereka yang terkuat.
2.      Aktor kodian/foto copy/daur ulang :
Aktor yang tidak pernah memainkan peran. Hanya mengemas akting-akting yang sudah ada dengan sangat apik. Mereka yang kuat pada teknik dan klise yang bukan bikinan mereka sendiri melaikan mereka ambil oper dari aktor-aktor lain di zaman dan negri lain. Karakterisasi demikian didasarkan pada ritual yang sangat konvensional. Mereka tahu bagai mana memainkan setiap peran dalam srentetan lakon dari seluruh penjuru dunia. Bagi aktor-aktor macam ini, semua peran tertuang dalam cetakan permanen yang sudah ‘diterima seperti itu’  dan tidak pernah berubah-ubah lagi. Andai tidak begitu, mana mungkin mereka bisa memainkan hampir tiga ratus enam puluh lima kali dalam pertahun, masing-masing hanya dengan satu kali latihan, seperti yang terjadi di beberapa kota.
“saya yakin bahwa mereka yang cenderung mengikuti jalur yang berbahaya ini tanpa melakukan perlawanan akan kena batunya suatu saat”.
3.      Aktor epigon (pengekor)
Aktor yang mempunyai keterampilan menjelma aktor yang pernah memainkan peran terdahulu.
“Misalnya kamu, Grisha. Dengan pilihan riasan dan kostum yang hati-hati untuk prlajaran kita yang lalu, jangan kau pikir bahwa kau sudah menciptakan citraan Mephistopheles, bahwa kau sudah menjelmakan dirimu menjadi dirinya atau bahkan bersembunyi  di dalam sosoknya. Tidak, itulah kesalahanmu”. Kamu tetap pemuda tampan seperti adanya dirimu. Kau hanya mengambil penampilan luar yang baru dan seperangkat gaya prilaku siap-pakai yang baru, yang kali ini tak ada dalam daftar tokoh klise zaman Ghotik atau abad pertengahan, menurut peristilahan kita.
“Dalam the taming of the shrew-karya shakespease-kami melihatmu memakai kostum dan perlengkapan yang persis sama, hanya saja waktu itu disesuaikan kebutuhan komik bukan tragik.
”Kami mengenal gaya modernmu, yang rutin dalam komedi masa kini dalam drama bersajak maupun prosa. Tapi apapun make up dan kostum, apapun ciri prilaku yang kau peragakan, kau tidak pernah lepas dari ‘Grisha’,sang aktor’ saat kau dipanggung. Segala metode yang kau gunakan justru mengembalikanmu lebih dekat pada Grisha. “Namun ini juga tidak niscaya sepenuhnya, dengan cara stereotipmu tidak mengaburkan pandanganmu, pada Grisha ‘sang aktor’ melaikan semua aktor pada zaman yang termasuk jenis ini.
Dan biarkan kami melihat diri manusiamu bukan sang aktor, karena sang aktor Grisha telah kami lihat sepanjang hidup kami disembarang pagelaran teater.
Pak tortsov berkata : “saya yakin bahwa Grisha sang manusia akan melahirkan sekian banyak tokoh peran. Tapi sang aktor Grisha tidak akan mempersembahkan apapun karena usaha dan produk “potokopi” di panggung sangat sungguh terbatas jangkauannya, miskin dan keropos sampai kedasarnya”.
4.      Aktor ceroboh
Vanya misalnya, setelah pak Tortsov membahas Grisha ia pun membongkar permainan Vanya. “Apa yang kau sajikan kepada kami,” kata pak Tortsov, “bukanlah citra sosok melaikan kesalahpahaman. Yang kau sajikan bukanlah manusia atau monyet melaikan sapu cerobong asap. Ia tidak punya wajah, hanya ujung yang kotor untuk menyapu jelaga.
“Dan bagaimana tetang pembawaanmu, gerakmu, lakumu? Apa semuanya itu? Sejenis ayan atau apa? Apa kau harap kau harap, kau bisa bersembunyi di balik karakterisasi  peran pria tua itu, tapi kau gagal. Sebaliknya, kau hanya memperlihatkan “Vanya” dengan lebih nyata dan hidup dari “Vanya” yang sebelum-belumnya, karena prilaku itu khas milikmu bukan milik si pria lanjut usia yang seharusnya kau lukiskan.
Dari penjabaran diatas kita dapat memeriksa keberadaan diri kita di tipe apa kita sesungguhnya selama ini. Selain ada tipe-tipe palsu pak Tortsov juga memberi tahu aktor yang seharusnya berdiri diatas panggung, adalah aktor watak (karakterisasi). Apa yang dimaksud dengan aktor watak.
Aktor watak adalah seorang pemeran (aktor) yang bersembunyi dibalik peran yang dimaikannya, bukan peran yang bersembunyi di balik kepribadiannya. Ada aktor-aktor yang tidak diberi anugrah, seperti ketampanan, kecantikan, vokal yang bagus atau hal semacamnya. Tetapi ia terus mencari untuk menjelmakan tokoh yang ia mainkan, meraka bersembunyi di dalam karakterisasi untuk mencapainya. Untuk mencapai ini semua dibutuhkan teknik yang halus dan kepekaan olah seni yang tinggi, mereka tidak memukul rata dan menundukan semua peran di bawah kriteria mereka. Seperti proses kreatif yang dilakukan Kotsya pada pesta topeng :
“Dari sudut pandang penciptaan keperibadian individu ini,  hanya kotsya yang berhasil.”
“yang ia suguhkan kepada kita adalah sebuah karya yang artistik dan berani, dan karena itu harus kita bicarakan secara rinci. “Saya meminta Kotsya menjelaskan secara rinci sejarah perkembangan kritikusnya. Menarik kita ketahui proses kreatif apa yang membantunya menghayati perannya.”
Aku melakukan apa yang diminta oleh pak Tortsov. Langkah demi langkah, kuiingat semua apa yang kutulis di buku harianku tetang pematangan lelaki berjas panjang lusuh itu di dalam diriku. Pertama-tama saya percaya secara penuh dan sungguh-sungguh bahwa yang sedang saya lakukan dan rasakan itu nyata; kemudian saya muncul rasa percaya dan keyakinan bahwa citra yang sudah saya ciptakan itu tepat, dan bahwa semua tindakan bukan kepura-puraan. Ini bukan kepercayaan seorang aktor yang tersedot dalam dirinya sendiri; ini kepercyaan yang berbeda bahwa diri saya jujur dan tulus. Saya didalam diri si pria tua itu saya bertidak sejauh yang saya suka. Dan kalu dengan bapak pun saya berani bertatap muka seperti itu, tentunya saya tidak mereasa sungkan sama sekali memperlakukan penonton di seberabg lampu-lampu kaki dengan cara yang sama.
“Tapi apa yang kaurasakan ketika berhadapan dengan lubang hitam lengkungan prosenium itu?” tanya seorang siswa. Aku bahkan tidak memperhatikannya. Aku begitu terkuasai oleh sesuatu yang jauh lebih menarik, yang menyerap diriku saat itu. Itulah sebabnya pak Tortsov secara ringkas menyimpulkan, “Kotsya benar-benar hidup dalam sosok kritikusnya yang buruk perangainya. jadi, seperti yang kalia lihat, kita bisa menggunakan emosi kita sendiri, sensasi dan naluri-naluri kita sendiri, bahkan ketika kita sedang menghadapi tokoh watak yang berbeda dengan pribadi asli kita; perasaan-perasaan Kotsya selama memaikan perannya adalah perasaan-perasaan dia sendiri.
Pak Tortsov menantang kotsya untuk melakukan, emosi-emosi semacam itu tanpa rias ataupun kostum. Karna pak Totsov ingin melihat emosi semacam itu tanpa bersembunyi di balik rekaan.
Lagi pula saya sudah sering memaikan peran itu tanpa rias. Tetapi saya malu untuk melakukan apa yang ada pada diri saya.
Dengan, demikian, suatu perwatakan atau penokohan, karakterisasi, adalah topeng menyembunyikan diri aktor. Di balik lindungan topeng itu aktor dapat menelanjangi jiwanya hingga bagian yang paling intim. Inilah ciri khas yang penting dari penokohan dan karaterisasi.

                                                                                                                Agung Cesmong 22/09/14

Kamis, 02 Oktober 2014

kumpulan sajak

Kumpulan puisi
Bagus giat haryoko
2012-2014
Laut lepas

Malam adalah burung-burung kesepian
Dan pagi kehilangan jalan

Dingin dalam diriku
Lautan lepas dalam hatimu
Aku tak bisa meredekan hujan
Dan pelangi telah memilikimu
Tetapi apa yang akan sampai pada hatiku
Waktu termangu
Langit sendiri

April 2012
















Di ujung waktu

Di ujung waktu
Pada sisa rokok mu
Bayangan wanita itu

Halaman buku telah penuh
Dan secangkir kopi tak tersentuh
Mungkin kau masih ingin mengucapkan kenangan

Cahaya matahari, telah menyentuh wajahmu
Tetapi waktu hanya larut untuk kesekian kali

April 2012
















Tetangku

Wajahmu ibu
Pada potret riang
Dalam bingkai
Dinding kamar

Manakah yang sama dengan wajahmu
Wanita berkerudung merah
Atau jingga
Menghitung daun
Dengan jari-jari kelabu


Seorang meminta patung kayuku, ibu
Maka hari bahagiaku adalah angan seorang wanita
Tentang seorang pria berbaju hitam
Menunggu langit senja
Di bawah pohon akasia

Suara siapa yang terdengar
Saat subuh sebentuk khayalan
Dan pagi meninggi

Hanya ibu yang mengerti
Ditanganku
Ia melukiskan langit senja

Mei 2012

Solilokui

Kata seperti angin
Lumpur sebentuk khayalan pagi
Kegembiraan tak dapat
Dilihat dengan sendiri

Mei 2012























Mengaca pada rembulan

Wajahmu seperti kilau lautan
Berdekapan tak terbaca
Seperti laut lepas

Bulan berlayar
Kata-kata bercerai
Gelombang pada karang

Sepi mengusai buih-buih
Rembulan hilang tepi


Juli 2012








Penantian

Kau tak lagi ada
Sayap-sayap hitam awan
Menjelma badai

Laut membangakai
Di landai pantai
Cahaya menetas
Pada ambang fajar

Juli 2012






Hrapan

Dibaris pepohonan
Sebentuk mimpi tak terjaga
Karena sudut malam tak ada
Menjelma labirin hitam
Mencekam batu angan
Terkapar serupa bangakai

Juli 2012








Kata

Kata yang tersembunyi
Seperti luka baru
Perih dipelapar mata
Mengungkap tanya

Selalu terlihat denyarnya, debarnya
Gambar berwarna darah
Pada ingatan mengelabu

Juli 2012






Tak pasti

Siapa yang mendengar hujan pagi ini
Mengusik banyak tanda dan tanya
Pada pintu kematian
Tanpa kata


Seperti arus dalam laut
Mendengar gelombang pada karang
Seperti buih mengantar tanya
Tersimpan dipasir garam

Juli 2012







Seketsa malam kota

Awan hitam menutup kota
Bias cahaya memantulkan
Bentuk jalan pada khayal

Seorang pelacur dan suara lagu
Mengalun dari pintu bar
Mentautkan diri dipinggir trotoar
Hingga malam susut

Sebatang rokok ia nyalakan
Bagi dingin atau angin
Seperti lelakinya yang lama pergi

Juli 2012



Terlepas

Engkau seperti sajak
Lepas makna dari kata
Seperti jejari angin
Menyentuh reranting
Daun gugur menjadi asing

Hilang pada arus ditubuh
Sungai yang juga mengalir dinadiku
Begitu sunyi serupa ilusi
Yang lama kunanti denyarnya
Digigir pagi

Sekawanan burung
Mungkin juga mendung
Mendayung bersama layung

Juli 2012









Bertanya

Tak ada kata dalam setiap balutan hujan
Selain lokan lokan kepedihan
Memiuhkan hasrat yang tak runut dalam kabut cemas
Menjadikannya senandung yang belum lengkap

Mengapa tak kau gulati kenangan kita
Mengapa kau hanya mengubur kenangan yang indah
Aku pun tak sempat lagi memberi tanda
Pada setiap pristiwa yang melintas ditengah,
Kegembiraan kita

Banyak ikhwal perasaan yang belum lengkap
Dari semua kenangan yang telah kau kuburkan
Dan tak ada kata dalam balutan hujan
Yang memiuhkan hasrat kenangan

januari 2013












Membalas


Dulu suaramu selalu menyulap
Malam begitu nyaman untuk dilewati
Angin membawa hujan untuk membalut kata yang terpenggal;
Tetapi kenangan itu telah cukup untuk bekal berlabuh

Malam datang membawa badai
Suaramu melekat tentram pada hati
Masih ada ketegaran kasih sukmamu

Kasih berjanjilah dengan hati pupus ini
Seperti layaknya para pecinta
Agar aku dapat membalas kasihmu
Dengan cinta yang telah lengkap
Sebelum fajar menjemput

Januari 2013









Kenangan lalu sebuah kapal

Di kapal itu
Pernah kita mengenang sesuatu
Mengungkap peristiwa yang tertelan waktu
Tetapi kau dan aku tak pernah mampu
Mencerna kenangan lalu
Menganjal ingatan klabu

Ah,,, laut begitu tenang
Malam tenang
Tanpa penerangan
Angin datang begitu nyaman
Pada cinta yang tenang

Kenangan-kenangan itu melayang
Menjadi angan
Menggelepar dan tak lagi membangkai
Tubuh bergeming, menjadi bangkai kenangan

Tetapi di kapal itu
Telah ada kehidupan
Yang tak sempat ku bisikan

Februari 2013








                                                                             Lampung September 2013








Terlepas
Engkau seperti sajak
Lepas makna dari kata
Seperti jejari angin
Menyentuh reranting
Daun gugur menjadi asing
Hilang pada arus ditubuh
Sungai yang juga mengalir dinadiku
Begitu sunyi serupa ilusi
Yang lama kunanti denyarnya
Digigir pagi
Sekawanan burung
Mungkin juga mendung
Mendayung bersama layung

                                                                                                                  

                                                                                       Lampung februari 2012








Seketsa malam kota

Awan hitam menutup kota
Bias cahaya, memantulkan
Bentuk jalan pada khayal
Seorang pelacur dan suara lagu
Mengalun dari pintu bar
Mentautkan diri dipinggir trotoar
Hingga larut malam susut
Sebatang rokok ia nyalakan
Bagi dingin atau angin
Seperti lelakinya yang lama pergi



                                                                                      Lampung juli 2012









Tak pasti

Siapa yang mendengar hujan pagi ini
Mengisak banyak tanda dan Tanya
Pada pintu kematian
Tanpa kata
Seperti arus dalam laut
Mendengar gelombang pada karang
Seperti buih mengantar Tanya
Tersimpan dipasir garam
Arah yang tak pasti   



                                                                                      Lampung juni 2012










Tanda yang hilang
-kepada APF-

Kau menjelma angin sore
yang meniupkan bara, dan mengantarkan iktibar
untuk terus menggemakan nada
pada nyayian cinta
Tak ubahnya kau
selalu kuberi tanda dalam hati untuk luka
persaan yang sulit untuk dihimpit
menjadi lokan sempit
Inginku angankan kau
seperti larik larik sajak
tanpa mata yang melihat
tetapi kau selimuti itu dengan rasa ragu
Mengapa tak sempatku tandai senyum itu
seakan seperti anak panah, mampir untuk mengenal
lekuk harapan
Kini, dan mungkin esok
akan tulis tanda pada lebar sajak yang lain
agar dapat tertafsirka seluruh sayatan
dan segalanya akan terbentang
bunga bunga api telah padam
bersama lembab darah pada luka
Tetapi memang tak ada kalimat untuk cinta
terselsaikan oleh kata kata

Lampung februari 2014
Pergi
Pagi menepi
sembilu angin menyapa hati
sunyi berteman sebilah cemas
Aku meradang pada nyeri
terhunus dalam sepi
terbakar untuk api
terlunta akan abu
Dan seakan ada sesuatu berkeling menjadi kenangan
setelah kenanganmu hadir di pelapar mata kusam
mata yang tak pernah memandang kilau harapan
Kini kepergian menanti
untuk sebuah poci digigir pagi
setelah angin mengenakan ilusi
harapan terlunta, tak ada juga yang menanti
tetapi seluruh kenangan membangkitkan ku
untuk tetap melintas pada lekuk harapan
pikuk kesunyian
Abu yang terlunta menjadi bebas
angin membawanya serta pada jiwa
Ia pergi meski terlunta
mencari batas paling sepi
menyeka tepi dari batas paling sunyi
mengapa selalu kau halau semua tanda yang ada


                                                                             Lampung februari 2014

meluap
I
Hujan yang itu-itu saja
meleburkan kenangan
menimbulkan hasrat dalam asmara
Keluarlah dari ruang kebisingan
lihatlah warna hujan disetiap garis batas
mempertemukan kerinduan

suara hujan menjelma
batas sunyi yang samar
meskipun sajak tak pernah selsai menafsirkan namamu
menyeka kau dalam metafora
aku menjadi rutin menyabit kepalsuanku
membenamkanku dalam seluruh kefasihanmu
mengemasku untuk memenuhi hasratmu
hasratmu seperti lubang hitam
tetapi aku ingin masuk kebatas paling akhir dirimu
dan kupasrahkan kehancuranku di luar kehendakmu
tetapi aku mengerti tak kan mampu kau menaggung seluruh kebengalanku
saat ini Tak ada lagi geteran itu
berkecamuk dalam jantungku
akan kupertaruhkan luka
hanya sekedar untuk menemukan harapan
karna semua tanda tak lagi nyata
Aku telah terluka oleh pedangmu
yang selalu kau sembunyikan dalam keheninganmu
menyentuhku dengan rasa takzim
“kini pedangmu menjadi dingin pada lukaku”
Memang kau selalu anggun seperti runcing pedang
menyayat segala kerinduan
tak mampu bergetar akan pendar harapan
kau membuatku telanjang dan kaku
dan bermimpi sebab terlalu ragu
mungkin terlalu percuma segalanya kau beri
sebab aku telah berada pada luka dan duka
kini kebengalanklu menjelama pisau
bergerak lembut, menepi pada kefasihanmu
kau telah abai dalam kefasihanmu
untuk selau
mendugaku

II
Kini telah ku letakan dirimu di ujung mata pedang
mengelupas kebebasan dari kehancuranku
memukau serta menggeladangku kepermukaan paling jera
sungguh aku telah berada pada tepi paling tepi
menyayat harapan untuk kembali menemukan suatu harapan lain
Telah kusepuh kau dalam bara hati
menjadi lawan dalam pertarungan hasrat
kau telah menguliti jantungku
dengan sembilu kefasihanmu
Membobol nalarku
Mungkin Kita terlalu pongah pada sepi
kehilangan tanda dalam puisi

III
Dan kau jangan selalu mengharapkanku karna aku bukanlah harapan
hanya sebuah keperihan untuk mampir sekedar mengenal
pada jiwa yang tak pernah tertafsirkan
Kau selalu menghalau segalanya untuk hilang dalam keraguan
tetapi aku selalu bersenandung untuk luka baru
menyeretku hinga jera menemaniku



                                                                              Lampung januari-februari2014














samana

I
Sungai begitu teduh
membiasi bayangan lalu
Kau berjalan mengitari hutan itu
mencari atma yang bersemayam membisu
Seperti samana sepi dalam semedi
belajar melampaui batas dirinya
pada luka ia menolak hasrat
menyelami pendritaan untuk keindahan
Telah ia benamkan keakuan pada kehampaan
tapi tak seorang samana yang mencapai nirwana

                                                                                      Lampung februari 2014








“”
Aku pun cuma batas yang terlalu sering kau lewati
tetapi tak satupun jejakmu tertinggal
hanya debu menjadi kaku
kaku dalam waktu yang termangu
Batas batas itu tak lagi kau temukan
ketika kau benamkan kerinduan
kini aku tenggelam pada lamunan
tersayat kehampaan
Ingin ku tanggalakan seluruh rindu
terhunyung akan kenangan yang mencabik pikiranku

Berjalan ke kota para pendosa
mencari debar pada tapal ingatan
mendedel jubah kepalsuan
untuk menemukan rumbai rumbai harapan
Jangan kau terka aku seperti belukar yang liar



Pejamkan matamu
ketika sunyi telah terbaca
dan kabut akan menebal
menutup kota yang bengal

Api menghunus sepi